Resume materi kegiatan pkkmb unusa

🥀STRATEGI MENUMBUHKAN KEMAPUAN BERPIKIR KRITIS UNTUK MENEMUKAN SOLUSI TERBAIK

                                                                              Dr.Pulung Siswantoyo,SKM.,M.KES.

Berpikir kritis adalah kemampuan menganalisis informasi secara objektif dan membuat penilaian yang masuk akal. Berikut adalah beberapa strategi efektif untuk mengembangkan kemampuan ini:

1. Kembangkan Rasa Ingin Tahu

Ajukan pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana" secara teratur

Jangan menerima informasi begitu saja tanpa pemahaman mendalam

Selidiki akar masalah, bukan hanya gejalanya

2. Analisis dari Berbagai Perspektif

Carilah pendapat dari berbagai sumber dengan sudut pandang berbeda

Pertimbangkan solusi alternatif sebelum membuat keputusan

Hindari terjebak dalam cara berpikir tunggal

3. Latih Penalaran Logis

Pelajari struktur argumen yang valid

Identifikasi kesalahan logika (logical fallacies) dalam pemikiran

Pisahkan fakta dari opini atau asumsi

4. Gunakan Kerangka Kerja Pemecahan Masalah

Terapkan metode seperti PDCA (Plan-Do-Check-Act)

Gunakan pendekatan 5 Whys untuk menemukan akar masalah

Terapkan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)

5. Waspadai Bias Kognitif

Kenali bias seperti bias konfirmasi, bias anchor, dan bias ketersediaan

Carilah informasi yang mungkin bertentangan dengan keyakinan Anda

Libatkan orang lain dalam proses pengambilan keputusan untuk mendapatkan perspektif berbeda

6. Praktikkan Refleksi Diri

Luangkan waktu untuk merenungkan keputusan yang telah dibuat

Evaluasi hasil dari proses berpikir Anda

Pelajari dari kesalahan dan keberhasilan

7. Terlibat dalam Diskusi dan Debat

Ikuti forum diskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda

Belajar mendengarkan aktif dan memahami argumen orang lain

Latih menyampaikan argumen dengan bukti dan alasan yang kuat

8. Belajar secara Terus-menerus

Baca berbagai sumber informasi dari berbagai disiplin ilmu

Ikuti pelatihan atau kursus tentang logika dan pemecahan masalah

Terapkan pengetahuan baru dalam situasi nyata

Dengan secara konsisten menerapkan strategi-strategi ini, Anda akan mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang kuat, yang pada gilirannya akan membantu Anda menemukan solusi terbaik untuk berbagai masalah yang dihadapi. Ingatlah bahwa berpikir kritis adalah keterampilan yang membutuhkan latihan terus-menerus untuk dikuasai.


🪷PERGURUAN TINGGI DI ERA DIGITAL DAN REVOLUSI INDUSTRI 

* Pak Ainun Najib 

Era digital dan Revolusi Industri membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Perguruan tinggi dituntut untuk beradaptasi dan memainkan peran yang lebih strategis dalam menghadapi tantangan dan peluang yang muncul

1. Transformasi Kurikulum

- Relevansi Industri: Kurikulum harus didesain ulang agar sesuai dengan kebutuhan industri saat ini dan masa depan. Ini mencakup integrasi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), big data, internet of things (IoT), dan lainnya.

- Keterampilan Abad ke-21: Fokus pada pengembangan keterampilan seperti pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah kompleks.

- Pembelajaran Berbasis Proyek: Menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan praktis, seperti studi kasus, simulasi, dan proyek kolaboratif dengan industri.

2. Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran

- E-learning dan Blended Learning: Mengadopsi platform pembelajaran daring (online) dan model pembelajaran campuran (blended) yang menggabungkan metode tatap muka dengan pembelajaran online.

- Personalisasi Pembelajaran: Memanfaatkan teknologi untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran dengan kebutuhan individu mahasiswa.

- Analisis Data Pembelajaran: Menggunakan data untuk memahami perilaku belajar mahasiswa, mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, dan memberikan intervensi yang tepat.

3. Pengembangan Riset dan Inovasi

- Fokus pada Riset Terapan: Mendorong riset yang memiliki aplikasi praktis dan dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah di masyarakat dan industri.

- Kolaborasi Riset: Meningkatkan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan lembaga riset lainnya untuk menghasilkan inovasi yang lebih signifikan.

- Inkubasi Bisnis: Mendukung mahasiswa dan peneliti untuk mengembangkan ide-ide inovatif menjadi bisnis yang berkelanjutan melalui program inkubasi.

4. Peningkatan Kualitas Dosen dan Tenaga Kependidikan

- Pelatihan dan Pengembangan: Memberikan pelatihan yang berkelanjutan bagi dosen dan tenaga kependidikan dalam bidang teknologi, pedagogi, dan keterampilan lainnya yang relevan.

- Rekrutmen Talenta: Menarik talenta-talenta terbaik dari berbagai bidang untuk menjadi dosen dan peneliti di perguruan tinggi.

- Evaluasi Kinerja: Menerapkan sistem evaluasi kinerja yang transparan dan akuntabel untuk memastikan kualitas pengajaran dan riset.

5. Peran Perguruan Tinggi di Indonesia East Java

- Adaptasi Lokal: Perguruan tinggi di East Java perlu menyesuaikan program dan kurikulum mereka dengan kebutuhan industri lokal, seperti pertanian, perikanan, manufaktur, dan pariwisata.

- Pengembangan UMKM: Memberikan dukungan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pelatihan, konsultasi, dan akses ke teknologi dan pasar.

- Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah: Bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan kebijakan dan program yang mendukung inovasi dan pertumbuhan ekonomi di East Java.

Dengan beradaptasi dan berinovasi, perguruan tinggi dapat memainkan peran kunci dalam mempersiapkan generasi muda untuk sukses di era digital dan Revolusi Industri, serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

🥀Generasi muda berintegrasi tanpa korupsi 

Prof.Dr.Haryono Umar.SE,.Ak ,M.sc.,CA

Generasi muda memiliki peran krusial dalam upaya pemberantasan narkoba. Integrasi generasi muda dalam program anti narkoba bukan hanya penting, tetapi juga strategis untuk memastikan keberhasilan jangka panjang.

Definisi Integrasi Generasi Muda Anti Narkoba

- Integrasi: Proses penyatuan atau penggabungan berbagai elemen menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam konteks ini, integrasi berarti melibatkan generasi muda secara aktif dalam berbagai aspek pencegahan dan pemberantasan narkoba.

- Generasi Muda: Kelompok usia produktif yang memiliki potensi besar untuk mempengaruhi perubahan positif dalam masyarakat.

- Anti Narkoba: Upaya kolektif untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, memberantas peredaran gelap narkoba, dan merehabilitasi korban narkoba.

Mengapa Integrasi Generasi Muda Penting?

- Kerentanan: Generasi muda adalah kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba karena rasa ingin tahu, tekanan teman sebaya, dan masalah sosial lainnya.

- Pengaruh: Generasi muda memiliki pengaruh besar terhadap teman sebaya dan komunitas mereka. Jika mereka memiliki pemahaman yang baik tentang bahaya narkoba, mereka dapat menjadi agen perubahan yang efektif.

- Inovasi: Generasi muda cenderung lebih inovatif dan kreatif dalam mencari solusi untuk masalah sosial. Mereka dapat membantu mengembangkan strategi pencegahan narkoba yang lebih efektif dan relevan.

- Keberlanjutan: Melibatkan generasi muda dalam program anti narkoba memastikan keberlanjutan upaya ini di masa depan.

Bentuk-Bentuk Integrasi Generasi Muda dalam Upaya Anti Narkoba

1. Pendidikan dan Sosialisasi:

- Program Pendidikan di Sekolah: Mengintegrasikan materi tentang bahaya narkoba dalam kurikulum sekolah.

- Kampanye Edukasi: Melibatkan generasi muda dalam kampanye penyuluhan tentang bahaya narkoba melalui media sosial, seminar, dan lokakarya.

- Pelatihan: Memberikan pelatihan kepada generasi muda tentang keterampilan hidup (life skills) untuk menolak tekanan teman sebaya dan mengatasi masalah tanpa narkoba.

2. Partisipasi dalam Program Pencegahan:

- Relawan: Mendorong generasi muda untuk menjadi relawan dalam program-program pencegahan narkoba di komunitas mereka.

- Mentor: Melibatkan generasi muda sebagai mentor bagi teman sebaya yang berisiko tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba.

- Pengembangan Program: Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program pencegahan narkoba yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka.

3. Keterlibatan dalam Rehabilitasi:

- Pendampingan: Melibatkan generasi muda dalam memberikan dukungan dan pendampingan kepada teman sebaya yang sedang menjalani rehabilitasi.

- Kegiatan Positif: Mengorganisir kegiatan positif seperti olahraga, seni, dan budaya untuk membantu korban narkoba mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan yang bermanfaat.

4. Advokasi dan Kampanye Publik:

- Media Sosial: Menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang bahaya narkoba dan mempromosikan gaya hidup sehat.

- Aksi Damai: Mengorganisir aksi damai dan demonstrasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah narkoba.

- Kolaborasi: Bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan pihak swasta untuk memperkuat upaya advokasi dan kampanye publik.

Contoh Program Integrasi Generasi Muda Anti Narkoba di Indonesia (East Java)

- Satuan Tugas Anti Narkoba (SATGAS): Pembentukan SATGAS di sekolah-sekolah dan universitas untuk memantau dan melaporkan aktivitas terkait narkoba.

- Kampanye "Generasi Sehat Tanpa Narkoba": Program penyuluhan yang melibatkan tokoh-tokoh muda sebagai role model untuk menginspirasi generasi muda lainnya.

- Pelatihan Konselor Sebaya: Program pelatihan bagi siswa dan mahasiswa untuk menjadi konselor sebaya yang dapat memberikan dukungan dan informasi kepada teman-teman mereka.

- Festival Seni dan Olahraga: Mengadakan festival seni dan olahraga sebagai wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan bakat mereka tanpa narkoba.

Tantangan dalam Integrasi Generasi Muda

- Kurangnya Kesadaran: Banyak generasi muda yang belum menyadari bahaya narkoba atau merasa bahwa masalah ini tidak relevan bagi mereka.

- Kurangnya Sumber Daya: Program-program anti narkoba seringkali kekurangan sumber daya manusia, dana, dan fasilitas yang memadai.

- Stigma: Stigma terhadap korban narkoba membuat mereka enggan mencari bantuan atau berpartisipasi dalam program rehabilitasi.

- Koordinasi yang Lemah: Kurangnya koordinasi antara berbagai pihak yang terlibat dalam upaya anti narkoba dapat menghambat efektivitas program

Strategi Mengatasi Tantangan

- Peningkatan Kesadaran: Melakukan kampanye penyuluhan yang lebih intensif dan kreatif untuk meningkatkan kesadaran generasi muda tentang bahaya narkoba.

- Penguatan Sumber Daya: Meningkatkan alokasi sumber daya untuk program-program anti narkoba, termasuk pelatihan, fasilitas, dan dukungan finansial.

- Penghapusan Stigma: Mengadakan program-program yang bertujuan untuk mengurangi stigma terhadap korban narkoba dan mendorong mereka untuk mencari bantuan.

- Peningkatan Koordinasi: Membangun jaringan kerjasama yang kuat antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan generasi muda untuk memastikan koordinasi yang efektif dalam upaya anti narkoba.

Dengan integrasi yang efektif, generasi muda dapat menjadi garda terdepan dalam perang melawan narkoba, menciptakan masa depan yang lebih sehat dan produktif bagi Indonesia.


🥀MENCETAK MAHASISWA UNUSA SEBAGAI GENERASI ASWAJA AN-NAHDLIYA

KH Ma'ruf khozin - PWNU jatim 

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:

1.⁠ ⁠Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?

 Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.

 An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).

 Ciri Khas: Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).

 Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).

 Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).

 2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah

a. Penjaga Tradisi Keilmuan

 Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.

 Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.

 b. Agen Moderasi Beragama

 Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian:

 Menolak radikalisme dan ekstremisme.

 Membangun dialog antaragama dan budaya.

 Menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).

 c. Pejuang Kemaslahatan Sosial

 Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak:

 Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan).

 Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).

 Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.

 d. Inovator dalam Tradisi

 Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern:

 Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam.

 Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja.

 Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.

 3. Implementasi di Kampus UNUSA

 Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.

 Kegiatan Kemahasiswaan:

 Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.

 Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.

 Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.

 Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.

 4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah

 Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.

 Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.

 Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.

 5. Kesimpulan: Mahasiswa UNUSA sebagai "Generasi Harapan"

Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk:

 Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi.

 Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat.

 Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.

 Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa Unusa adalah garda terdepan dalam misi ini.

🥀KESELAMATAN,KESEHATAN KERJA (k3l)DAN PERWUJUDAN INDONESIA EMAS

Muslkha Nourma Rhomadoni S.KM.,M.KS,


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) memiliki peran penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Penerapan K3 yang baik dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang pada gilirannya mendukung pembangunan nasional dan mencapai visi Indonesia Emas.

Definisi K3

K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Tujuan Penerapan K3

- Menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja.

- Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

- Menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan nyaman.

Peran K3 dalam Mewujudkan Indonesia Emas

1. Meningkatkan Produktivitas: Lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat meningkatkan motivasi dan produktivitas tenaga kerja. Pekerja yang merasa aman dan sehat cenderung lebih fokus dan efisien dalam bekerja.

2. Meningkatkan Kualitas SDM: Penerapan K3 yang baik berkontribusi pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). SDM yang sehat, kuat, cerdas, dan berakhlak akan menjadi generasi emas yang unggul.

3. Mendukung Pembangunan Nasional: Arah kebijakan K3 nasional mendukung agenda pemerintah dalam pembangunan nasional. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas akan mencapai target pembangunan, seperti penurunan kemiskinan dan pengangguran.

4. Mencegah Permasalahan Kesehatan: Upaya kesehatan kerja dapat mencegah masalah kesehatan prioritas, seperti stunting, menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta mengatasi masalah kesehatan reproduksi pada pekerja perempuan.

Penerapan K3

Penerapan K3 memerlukan partisipasi dan keterlibatan semua pihak. Pengelola tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja secara menyeluruh, terintegrasi, dan berkesinambungan. Strategi pengendalian yang inovatif perlu diterapkan untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Dengan memprioritaskan K3, Indonesia dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, meningkatkan kualitas SDM, dan mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Referensi : Materi kegiatan pkkmb unusa day 2 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Unusa Ambil Sumpah 136 PPG prajab

Gedung Negara Grahadi Surabaya Di bakar massa